JANUARI, katanya, bulan cita-cita dan harapan. Di bulan ini, seluruh ambisi kita torehkan. Target-target kita pancangkan. Lengkap dengan rencana untuk mewujudkanya. Ya, cita-cita dan harapan yang membuat bumi berputar. Membuat manusia tetap bersemangan ketika bangun pagi.
Hidup mengajarkan pada kita bahwa dunia ternyata tidaklah bersahabat. Namun tidak juga sepenuhnya memusuhi kita. Dunia cuma masa bodoh. Dunia tersenyum ketika kita tersenyum. Dia pun menangis ketika kita menangis. Saat kita merasa dunia bersahabat, dunia akan menunjukkan persahabatannya. Namun ketika kita merasa dunia penuh kelicikan dan tipu daya, kita pun akan menemukan kelicikan dan tipu dayanya.
Begitu banyak ‘keanehan’ yang kita temukan sepanjang tahun. Hal-hal yang kita harapkan tak kunjung tiba. Justru hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, yang datang menghampiri. Akhirnya, mungkin, kita pun sempat mempertanyakan: mengapa Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta dalam doa.
Padahal sejatinya, setiap doa orang beriman itu dijawab oleh Tuhan. Hanya bentuknya yang berbeda-beda. Ada yang diberikan seketika ketika kita meminta. Ada yang ditunda pada waktu yang (menurut Tuhan) lebih tepat.
Ada permintaan yang diganti dengan yang (menurut Tuhan) lebih baik. Ada doa pengabulannya yang menjadi penolak bencana yang akan menimpa kita. Ada pula doa yang tidak dikabulkan di dunia karena akan menjadi investasi pahala kita di akhirat.
Hidup kerap pula memberi kita ketidakpastian. Apa ujung dari setiap usaha kita, tidak mudah untuk menentukannya secara tegas. Kita seolah menelusuri lorong waktu yang kadang terang, kadang gelap. Tetapi mungkin disitulah menariknya hidup. Menjanjikan kejutan-kejutan. Betapa membosankannya hari-hari yang kita lalui kalau kita sudah dapat menebak bagaimana akhirnya.
Sejak 159 sebelum masehi, bangsa Romawi mengenal mitologi Janus. Janus disebut sebagai Dewa Permulaan. Nama “Januari” sebagai bulan permulaan dalam kalender Gregorian yang kita pakai sekarang, diambil dari nama dewa ini.
Masyarakat Romawi biasanya melakukan upacara di setiap tanggal 1 Januari. Dengan harapan sang Dewa memberi ‘rahmatnya’ kepada bangsa Romawi di sepanjang tahunnya. (Jangan-jangan ritual malam tahun baru merupakan modifikasi paganisme bangsa Romawi).
Dewa Janus memiliki dua wajah. Satu wajah yang menghadap ke depan. Satunya lagi menghadap ke belakang. Di kuil Romawi, wajah patung Dewa Janus yang dihadapkan ke Timur. Untuk menggambarkan tempat bermulanya hari. Sedangkan wajah yang lain menghadap ke Barat, tempat berakhirnya hari.
Wajah yang menengok ke belakang (Barat) di percaya sebagai lambang kemampuan manusia untuk mengintrospeksi diri. Sedangkan wajah yang ke depan (Timur) melambangkan optimisme menghadapi hari-hari yang akan dihadapi.
Kita sudah belajar pada masa lalu. Mengintrospeksi diri. Lalu merancang masa depan, seperti petuah Janus. Tetapi kita masih saja gagal. Selalu ada yang luput. Meski telah diantisipasi. Mungkin karena kita kerap ingin memulainya dari luar. Bukan dari dalam diri kita.
Mungkin, iya. Mungkin pula tidak. Karena kita bisa saja memiliki pengetahuan, kekuasaan, dan apa saja yang dapat membantu untuk mewujudkan mimpi kita. Toh pada akhirnya, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita tidak dapat dengan sepenuhnya menggendalikan nasib dan jalan hidup kita sendiri.
Kita seolah hanya diminta untuk bekerja. Berbuat. Karena dibalik kesulitan ada kemudahan. Dibalik setiap selusitan ada kemudahan yang baru. Dan kepada Tuhanlah kita kemudian banyak berharap. Sang Penentu garis hidup manusia.***
ASWAN ZANYNU, Penikmat Ikon.