ASWAN WORDS…


Jakarta Undercover
Juni 24, 2007, 3:00 pm
Diarsipkan di bawah: MEDIA

Film Hollywood biasanya membumbui pembunuhan dengan adegen erotis. Dalam film ini, edegan erotislah hanya menjadi setting pembunuhan. Jakarta Undercover, film thriller Indonesia yang dapat diacungkan jempol.

Awalnya seorang waria mati. Setelah sebelumnya memenuhi birahi tiga orang lelaki. Sebuah pembunuhan yang tidak direncanakan. Namun masalahnya menjadi panjang. Tiga lelaki tadi (salah satunya Haryo yang diperankan Lukman Sardi) kemudian sadar bahwa ada seorang saksi yang melihat perbuatan mereka. Film ini selanjutnya berisi kisah pengejaran sang saksi. Seorang anak autis bernama Ara (Kenshiro Arashi). Ia adalah adik Vikitra (Luna Maya), penari klub para homo yang menyamar menjadi waria. Pembunuhan itu terjadi di klub tempat Vikitra bekerja.

Untuk ukuran film Indonesia (non horor), Jakarta Undercover tergolong seru. Ia dapat menciptakan ketegangan yang terjadi sepanjang pengejaran. Saat mereka nyaris tertangkap, tiba-tiba lolos. Bagitu terjadi berulang-ulang. Penonton dibuat penasaran: Apakah Ara dan Vikitra tertangkap? Ritme ketegangan menjadi penggerak film ini. Sayangnya, di akhir film, “mesin” ini mogok. Penonton disuguhkan sebuah ending yang, menurut saya, begitu klise. Layaknya film Hollywood. Meski dengan format yang lebih kasar.

Tidak dapat dipungkiri, film ini menumpang tenar buku Jakarta Undercover. Secara keseluruhan, kisah dalam film tidak sama dengan buku karya Moammar Emka. Dalam bukunya, Emka fokus pada cerita ragam kehidupan seks kota Jakarta. Lengkap dengan cara mengordernya. Sedangkan film Jakarta Undercover hanya menjadikan klub homo sebagai tempat bermulanya cerita.

Bagi penonton wanita, apalagi pria (yang normal), visualisasi sodomi seorang waria di awal film rasanya terlalu vulgar. Mungkin saja adegan ini ingin disensor. Tapi dapat dipastikan akan mempengaruhi pemahaman penonton atas cerita film itu sendiri. Karena di sinilah titik awal penyebab kematian si waria. Akan lebih menarik bila adegan ini disamarkan. Atau ditampilkan dengan adegan yang oleh penonton dapat ditafsirkan sebagai sodomi. Tidak perlu ditunjukan secara kasat mata.

Jakarta Undercover tidak menjual seks. Ia film thriller. Hanya di babak awal, unsur erotis ditampilkan. Bisa jadi untuk memaksa perhatian penonton. Luna Maya meliuk-liukan tubuhnya diiringi house music yang menyentak. Demikian pula penari latar lainnya. Tapi rasanya hambar. Tidak seperti Demi Moore yang tampil sebagai penari dalam film Striptease (1996). Karena kemolekan Luna Maya diredam oleh perannya (saat menari) sebagai waria. Jadi serba tanggung buat yang hendak ngeres.***

ASWAN ZANYNU, Penikmat Ikon.


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>