Diarsipkan di bawah: TEXT
SETELAH dua dekade mereda, issu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali mencuat. Di satu sisi ia dibutuhkan. Di sisi lain sejumlah konsekuensi menghadang. Apa saja data penting yang dapat kita ketahui? Bagaimana negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat dalam mengelola listrik tenaga nuklir? Berikut ini nukilannya.
[#1]
Para penulis laporan The Future of Nuclear Power, An Interdisciplinary MIT Study (2003) menulis, teknologi PLTN menghadapi hambatan cost (biaya) yang mahal, safety (keamanan), waste (sampah nuklir), dan bahaya proliferation (senjata nuklir). Tapi, pilihan PLTN tetap diperlukan untuk mengurangi emisi CO2 agar pada 2025-2050 dapat dibangun 1.000 GWe PLTN untuk mengurangi 800 juta ton emisi CO2 per tahun.
[#2]
Pembangunan PLTN yang padat modal di atas 2.000 dollar AS/kW. Pembangkit listri tenaga batu bara 1.000 dollar AS/kW. PLTGU gas alam 600 dollar AS/kW).
[#3]
Konstruksi PLTN beberapa tahun terakhir hanya dominan di beberapa negara Asia: China, Korea Selatan, Taiwan, India, Pakistan, dan Jepang, yang memang sudah lama mengembangkan PLTN. Kalau dianalisis, dua hal yang menjadi dorongan utama negara-negara tersebut membangun PLTN: pertama, negara-negara tersebut memang tidak memiliki sumber daya energi yang cukup sehingga PLTN merupakan pilihan pokok untuk memasok kebutuhan energi. Kedua, pengembangan PLTN terkait dengan pengembangan senjata nuklir.
[#4]
Di Eropa, sejumlah negara yang dulu mengembangkan PLTN masih tetap emoh membangun yang baru walaupun Eropa memiliki ketergantungan pasokan gas dari Rusia dan minyak dari Timur Tengah dan Afrika. Hal ini tidak menyurutkan langkah Jerman melanjutkan program penutupan seluruh PLTN-nya hingga 2020. Swedia yang terkenal disiplin dalam pengoperasian PLTN juga tidak merencanakan pembangunan PLTN baru. Inggris setelah tidak ada pembangunan PLTN baru selama 10 tahun terakhir ingin menghidupkan program PLTN walaupun perusahaan nuklir milik negara, BNFL, sebenarnya telah bangkrut dan disubsidi habis-habisan oleh pemerintah. Di Eropa, pembangunan PLTN hanya ada satu unit di Finlandia (Olkiluto) yang disubsidi oleh Perancis karena merupakan pesanan pertama reaktor generasi III hasil pengembangan perusahaan nuklir Perancis, AREVA. Kemungkinan reaktor yang sama akan dibangun di Flamanville, Perancis, akhir tahun ini atas pesanan Electricite de France (EdF).
[#5]
Di Amerika Serikat tidak ada pesanan reaktor baru sejak 1979. Tahun 2002 pemerintah Bush meluncurkan program Nuclear Power 2010 dengan fokus pada komersialisasi reaktor generasi III+. Program ini didukung oleh US Energy Policy Act 2005 (Epact 2005). Walaupun demikian, hingga sekarang toh belum ada pembangunan PLTN baru, kecuali PLTN lama yang diperpanjang usia dan dinaikkan dayanya (uprating). Komisi Pengaturan Nuklir AS (Nuclear Regulatory Commission/NRC) memperkirakan pada 2007-2009 akan ada 19 permohonan untuk membangun 26 unit PLTN baru walaupun belum tentu seluruhnya mendapatkan izin NRC. Kalaupun mendapatkan izin, pembangunan PLTN tidak akan dimulai sebelum 2010 dan beroperasi sebelum 2014. ***
Sumber: Kompas, 25 Juni 2007: Renaisans Energi Nuklir? (Nengah Sudja, Peneliti Energi): Energi Nuklir Belum Bangkit (Fabby Tumiwa, Peminat Issu Energi).
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>