SAAT santai, istri saya bercerita tentang seorang temannya. Kebetulan dia dosen. Hingga di usia 35 tahun saat ini, dia belum menikah. Bukan karena tidak ada lelaki yang tertarik. Menurut kami lebih pada sikapnya yang perfeksionis. Kepingin mendapat suami yang betul-betul pas dengan frame yang telah dibuatnya. Terakhir, dia bercerita tidak ingin menikah dengan dosen. Alasannya, suami dosen akan berpeluang banyak berselingkuh dengan mahasiswinya. Apalagi setiap tahun, mereka datang silih berganti dengan usia yang lebih kurang sama tetapi dengan penampilan makin memikat!
Repot kan?! (Lho, koq saya yang repot ya? Dianya saja tidak repot!) Sadar atau tidak cara pandang seperti itu akan menyulitkan dia untuk mendapat suami yang layak. Kecuali kalau dia ingin menikah dengan lelaki pengangguran yang siap parkir di rumah sepanjang hari. Andai dia bertemu dengan seorang dokter. Lelaki dokter, dikhawatirkan akan berselingkuh dengan pasiennya. Lelaki pengacara, dikhawatirkan akan berselingkuh dengan kliennya. Maaf, pemimpin agama sekalipun, dapat main mata dengan jemaahnya yang kece. Dari bankir hingga nahkoda, dari tukang sapu hingga kelasi kapal, juga punya potensi serupa. Tidak ada yang bisa luput dari peluang untuk berselingkuh dengan orang di sekitarnya.Ketika memutuskan untuk menikah, ini menjadi satu dari banyak risiko yang harus siap untuk dihadapi. Ketakutan itu wajar dan manusiawi. Namun ketakutan yang berlebihan justru akan menjadi penghalang. Amannya sih, jangan menikah! He..he..he.. Karena ketika mencitai, seseorang akan berhadapan dengan risiko tidak dicintai (lagi). Kalau takut dengan risiko itu, yaaa… jangan pernah mencintai. Pernikahan ingin melembagakan kesetiaan. Namun ketika kesetiaan ini dilembagakan, risikonya adalah pengkhianatan. Itulah sebagian dari risiko yang harus dihadapi. Berbesarhatilah menghadapinya. Dengan segenap kekuatan. Sebab bagaimanapun juga, kesetiaan jauh lebih mulia untuk diperjuangkan.Saya jadi ingat sebuah kutipan dari cerpen berjudul “Suamiku Jatuh Cinta pada Jam Dinding”. Cerpen ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Begini kutipannya: “…sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak…patah hati atau sakit hati adalah bagian yang sama dengan jatuh cinta. Kalau kamu pernah mengalami sakit hati, cintamu akan menjadi sempurna.” Ada komentar?! ***
Agustus 11, 2008 at 9:15 am
sakit hati akan menjadikan cinta yang sempurna…..
wah…saya sih antara ya dan tidak…..
sakit hati nya karena apa dulu gitu….
dikhianati ?
kalo kita dikhianati dan itu karena kesalahan kita…mungkin kita tidak layak untuk sakit hati…
dan mungkin kita akan menemukan cinta yang sempurna karena rasa menyesal kita
lalu bagaimana dengan pasanagan kita yang terlanjur sakit hati dan kemudian balas dendam…
apakah dia juga tipe ‘pengambil hikmah’ atau tipe ‘pembalas dendam sejati’ ?
jika dia tipe ‘pembalas demdam sejati’…yang tertinggal adalah : cinta ’sempurna’ kita jadi bertepuk sebelah tangan
he….he….he…..
menurut saya : ‘cinta’ dalam artian hubungan pria-wanita
lebih merupakan sinergi yang saling mengembangkan
betapapun kita terluka ataupun kita terjebak dalam ‘pengkhianatan’
kita dalam dilema ataupun merasa sendirian untuk ‘berjuang’
kita berupaya pasangan kita terus menemukan ‘diri sendiri’ dalam proses ‘belajar’nya melalui hubungan kita
selain tentunya selalu dalam konteks hubungan transendental denganNya…
Agustus 11, 2008 at 2:16 pm
hai aswan apakabar? masih ingat saya, pelatihan IASTP jurnalistik di kendari tahun 2007 lalu.
saya ingat anda karena kami itu sedang melakukan evaluasi atas program radio komunitas di sejumlah daerah. kami ada rencana mengundang sejumlah pihak yang tahu dan terlibat dalam soal radio komunitas.
anda punya waktu pada tanggal 21-22 agustus untuk acara di Yogyakarta?
kalau anda ada waktu, silakan email saya: ignh@yahoo.com, atau sms saya ke 0812-1040460.
saya kehilangan kartu anda, jadi cari-cari di internet dan menemukan blog anda. blognya menarik kok … he he he …
Agustus 13, 2008 at 5:35 am
eh, ada mas hari…
memang tidak mudah mencari suami, juga mencari istri. sekarang tinggal niat saja, mau meneruskan perjalanan atau tidak. atau, mau sampai kapan perjalanan itu. seperti layaknya organisasi, hubungan pernikahan itu memang harus terus dikaji visi, misi dan rencana strategisnya. hahaha…
see you mas aswan!