Diarsipkan di bawah: RILEKS
puisi Laela Awalia
Ini ceritaku
tentang seorang nenek renta
dan bocah kecil
-ingusan-
yang menjajakan terong dan kecipir
menjelang Lebaran
pagi buta
berjalan dari rumah
dengan senyum sumringah
lalu, di emperan pasar
mereka menggelar tikar
dan bersabar
menunggu terong dibayar
dan berdatanganlah orang-orang
ke pasar
berjejalan
dengan langkah-langkah cepat
memburu daging sapi
atau ayam negri
sedang mentari mulai tertawa
memandang semua
-ibu-ibu cerewet
dan pedagang agresif
ah! Nenek renta dan bocah ingusan?
Apa pula ini!
Mengapa ia menjual terong?
Sedang orang-orang mencari daging untuk direndang!
-sabar-
tetap sumringah
bahwa rezeki pasti datang
bocah ingusan mulai bosan
kuyu di emperan pasar
dengan perut yang keroncongan
karena sahur hanya berlauk garam
-sabar itu tak ada batas
hingga mentari mulai berkemas
dengan rembulan ia berganti tugas
dan nenek renta tetap sabar
menunggu terong dan kecipir dibayar
meski entah sampai kapan
fajar?
Aha!
Seseorang membungkuk perlahan
Dengan wajah dermawan
Lalu keajaiban ada jua
Meski satu ikat, terong terjual sudah
Dengan harga seribu rupiah
“ini rezeki kita,”
nenek renta penuh sumringah
dan bocah ingusan berdiri gagah
siap pulang ke rumah
karena senja mulai merekah.
Natar, 23 September 2006
Sumber:100 Puisi Indonesia Terbaik 2008
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
met lebaran ya mas aswan dan keluarga….
mohon maaf lahir batin…
puisi yg sederhana tp menyentuh
Komentar oleh yolanda September 30, 2008 @ 10:27 pmTerima Kasih.
God bless you!!!
Komentar oleh Aswan Oktober 2, 2008 @ 11:58 am