ASWAN WORDS…


Jurnalis atau Politisi?
November 10, 2008, 2:04 pm
Diarsipkan di bawah: MEDIA, SOSIAL | Tag: , , , , ,

DALAM Pemilu 2009, (sedikitnya) ada sekitar 120 wartawan atau mantan wartawan ikut bertarung dengan calon anggota legislatif lainnya. Begitu tulis Ignatius Haryanto dalam opininya yang dimuat harian Kompas (7/11/2008). Ini fenomena menarik. Berbeda dengan selebriti yang mengandalkan ketenaran dan citra dirinya, jurnalis memiliki keahlian dan peran yang signifikan dalam komunikasi politik. Seperti apakah peran dan “kekuasaan” mereka?

Disadari atau tidak, wartawan sebenarnya telah menjadi komunikator politik. Sama halnya dengan para politisi. Dengan profesi yang digelutinya, wartawan menjadi penyampai pesan-pesan politik dari elit kepada masyarakat. Demikian pula sebaliknya. Mereka bahkan memiliki kekuasaan untuk mengendalikan dan mengarahkan opini publik. Sesuatu yang tidak dapat dimainkan secara langsung oleh para politisi.

Melalui instrumen berita, editorial, atau diskusi yang disiarkan melalui media elektronik (talk show), jurnalis memiliki andil dalam memilih dan menempatkan sejumlah isu ke dalam agenda media. Dengan kekuatan media massa, hal-hal yang awalnya (hanya) menjadi agenda media, kemudian menjadi agenda publik. Inilah yang lalu membentuk apa yang disebut sebagai opini publik.

Bagitu banyak isu politik yang berkembang di masyarakat, wartawan (dengan “kekuasaannya”) hanya memilih isu-isu tertentu. Konsekuensinya, beberapa isu lain terabaikan. Setelah memilih isu tersebut, mereka mengemasnya dalam format dan sudut pandang tertentu pula.

Tidak sampai di situ saja, mereka juga memberi derajat penekanan yang berbeda-beda atas setiap isu. Misalnya ada isu yang diangkat menjadi berita utama (headline) dan dipublikasikan dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi. Sementara isu lain, disajikan secara moderat atau rendah.

Ilmuwan seperti Bernard C Cohen melihat para pelaku politik cenderung mempercayai bahwa media massa (tempat para jurnalis bekerja) mempunyai kemampuan untuk mengetahui “pikiran masyarakat” Dalam kenyataannya, banyak pejabat yang memperlakukan pers dan pendapat umum sebagai sesuatu yang sama (sinonim), baik secara terang-terangan mempersamakannya, atau menggunakannya secara bergantian.

Dengan sistem politik di mana oligarki partai politik begitu kuat seperti di Indonesia, ada kekhawatiran para jurnalis, seperti halnya selebriti, hanya akan menjadi pion-pion kekuasaan. Mereka akan masuk dan menjadi bagian dari sebuah kelompok elit eksklusif yang melihat segalanya dari kacamata kepentingan partai yang parsial. Ironi, namun ini sulit untuk dihindari.***

[versi detail]

Inspired by Mas Hari. Tq.


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

dilema atau tergoda ya! wartawan yang jadi politisi mungkin tergiur oleh empuknya kursi dewan, atau memang benar-benar merupakan panggilan nurani

Komentar oleh hermansahtantan

Partai politik yang menjadi pintu masuk ke legislatif akan sangat memberi warna pada idealisme jurnalis setelah mereka duduk di kursi dewan. Nurani mereka, cepat atau lambat, akan menyatu dgn warna nurani partai mereka.

Tq Mas Herman.

Komentar oleh Aswan

betul mas….jika politik dijadikan melulu ‘untuk mencari naskah’ – prihatin bgt kalo ternyata keahlian jurnalis (memilih dan memilah isu2, yg tadinya biasa aja jd luar biasa) disalahgunakan untuk melulu kepentingan politis

Komentar oleh yolanda

Yap.. spakat!
Btw, Obama menang. Ada lagi nih yg ramalannya jadi kenyataan. Jauh sebelum media menggembar-gemborkannya.
Hehehe…
Eh, tebak lagi dong, siapa Presiden RI 2009?!

Komentar oleh Aswan

mudah-mudahan Sri Sultan Hamengkubuwono 10….
bukan karena saya di jokja lho he…he…he….

Komentar oleh yolanda

apa ini dianggap jurnalis sebagai proyekan lima tahunan atau sebuah tanggung jawab moral ke masyarakat? kembali ke nurani jurnalis masing-masing. Joko Susilo seorang belum dapat dijadikan indikator.

Komentar oleh Uchie Jalil




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>