Diarsipkan di bawah: MEDIA, PUBLIKA, SOSIAL | Tag: demonstrasi, komunikasi politik, MEDIA, Partai
MUNGKIN kita pernah mengalaminya. Meski tidak setiap hari. Terjebak dalam kemacetan dan mesti mengubah jalur perjalanan karena terhadang sebuah demonstrasi. Mengapa demonstrasi kerap mengganggu kenyamanan publik? Atau bahkan merusak hingga menyebabkan cedera hingga kematian. Haruskan setiap aspirasi atau kepentingan disuarakan melalui demonstrasi? Mengapa ia begitu difavoritkan?
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
JIKA sedikit jeli, Anda pasti pernah melihat di televisi, Thaksin Shinawatra memakai gelang karet berwarna oranye. Saat mengunjungi Bangkok beberapa waktu lalu, saya juga kerap bertemu dengan orang yang mengenakan gelang oranye. Apa hubungannya gelang oranye dengan Pak Harto?
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
VOX populi, Vox Dei (suara rakyat, suara Tuhan). Slogan ini identik dengan demokrasi. Kekuasaan ada di tangan rakyat. Mereka berhak menentukan siapa yang diinginkan untuk berkuasa. Melalui pemilu atau pilkada itulah, suara rakyat disalurkan. Naasnya, ada “suara” lain yang membayangi. Semacam backing vocal saat paduan suara.
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
SEBUAH koran nasional memuat artikel tentang pentingnya pemimpin yang militan. Ada tiga ciri militan: (1) aktivis, (2) memiliki kepemimpinan yang kuat dan visioner, serta (3) tak kenal menyerah. Namun apakah itu cukup untuk membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik?
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
KETIKA berita bunuh diri mencuat ke publik, media mencoba menjastifikasi penyebabnya. Untuk negara miskin seperti Indonesia, kemiskinan yang kemudian menjadi tertuduh. Namun bila karena alasan kemiskinan, seharusnya ada 39,1 juta orang miskin di Indonesia saat ini yang juga bunuh diri. Apakah penyebabnya memang sesederhana itu?
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
KITA tidak pernah kita menduga sebelumnya bahwa untuk berdemokrasi, dibutuhkan dana sosial yang banyak. Kaya seolah menjadi prasyarat kelanggengan berdemokrasi. Batas kritis pendapatan perkapita suatu negara untuk kelangsungan demokrasinya adalah 6.600 dollar AS. Sedangkan Indonesia hanya berpendapatan perkapita sekitar 4.000 dollar AS.
Diarsipkan di bawah: PUBLIKA
JANUARI, katanya, bulan cita-cita dan harapan. Di bulan ini, seluruh ambisi kita torehkan. Target-target kita pancangkan. Lengkap dengan rencana untuk mewujudkanya. Ya, cita-cita dan harapan yang membuat bumi berputar. Membuat manusia tetap bersemangan ketika bangun pagi.