Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
.. seberapa penting kita memiliki
seberapa jauh arti memiliki
seberapa dalam perlunya rasa memiliki …
mampukah kekuatan benak mengatasi semua
… meredam hasrat memiliki
ataupun
meredam rasa takut akan kehilangan …
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
SAAT santai, istri saya bercerita tentang seorang temannya. Kebetulan dia dosen. Hingga di usia 35 tahun saat ini, dia belum menikah. Bukan karena tidak ada lelaki yang tertarik. Menurut kami lebih pada sikapnya yang perfeksionis. Kepingin mendapat suami yang betul-betul pas dengan frame yang telah dibuatnya. Terakhir, dia bercerita tidak ingin menikah dengan dosen. Alasannya, suami dosen akan berpeluang banyak berselingkuh dengan mahasiswinya. Apalagi setiap tahun, mereka datang silih berganti dengan usia yang lebih kurang sama tetapi dengan penampilan makin memikat!
SIAPA saja bisa terkena Post Power Syndrome (PPS). Termasuk saya dan Anda. Jamaknya orang berpikir, PPS disebabkan oleh hilangnya jabatan seseorang. Hilangnya “sesuatu” itulah yang menyebabkan seseorang stress. Merasa diri tidak berharga (lagi). Kehilangan semangat hidup. (Mudah) marah. Dan seterusnya… Apakah “sesuatu” itu hanyalah jabatan semata? Lalu sindrom yang ditimbulkan juga semata-mata karena hilangnya “sesuatu” tadi?
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
BERQURBAN itu mudah kalau dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Berqurban bukan setiap bulan. Tapi setahun sekali. Artinya masih ada 364 hari yang tersedia untuk itu. Sayangnya, ketika saat berqurban tiba, mengeluarkan uang untuk qurban tidak semulus saat hendak membeli sebuah hand phone model terbaru!
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
CEK kesehatan sebelum nikah. Sebuah majalan bulanan pernah mengangkatnya sebagai headline. Menurutku sangat berlebihan. Terlalu bertele-tele. Kalau sudah siap menikah, yaa menikah saja. Titik! Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan seorang bekas mahasiswi. Kedua anaknya tampak mengidap penyakit genetik.
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
HARI itu, saya punya janji dengan seorang mahasiswa pukul 10 pagi. Kami akan mendiskusikan teori yang digunakannya dalam penelitian. Namun via sms saya memajukannya ke jam 9. Alasannya (mungkin) sepele. Jam 10 saya harus menjemput Si Sulung pulang sekolah. Mahasiswa itu pun sepakat jadwal pertemuan dimajukan. Karena dia juga berpendapat kalau “keluarga adalah segalanya”. Oleh karenanya harus didahulukan. Lebih dari itu, dia berhasil mengusik kesadaran saya tentang definisi “ayah yang baik”.