Diarsipkan di bawah: RILEKS
puisi Laela Awalia
Ini ceritaku
tentang seorang nenek renta
dan bocah kecil
-ingusan-
yang menjajakan terong dan kecipir
menjelang Lebaran
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
.. seberapa penting kita memiliki
seberapa jauh arti memiliki
seberapa dalam perlunya rasa memiliki …
mampukah kekuatan benak mengatasi semua
… meredam hasrat memiliki
ataupun
meredam rasa takut akan kehilangan …
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
Diarsipkan di bawah: MEDIA
Jogja, 21 – 22 Agustus 2008. Kami berkumpul untuk sebuah diskusi di Hotel Jayakarta. Diskusi terbatas untuk mengevaluasi Radio Komunitas (rakom) itu, difasilitasi Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) bersama TIFA Foundation. Mereka adalah pelaku rakom dan jaringannya dari beberapa daerah di Jawa, Lombok, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Juga beberapa orang yang mewakili Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), Balai Monitoring Frekuensi (Monfrek), serta akademisi.
Diarsipkan di bawah: RILEKS
MAU tahu mengapa George Foreman memberi nama George pada semua anaknya? Versi lain dari cerita “Pangeran Kodok”. Cara seorang penyeleksi memutuskan siapa yang diterima untuk sebuah pekerjaan baru. Harapan dari seorang yang punya masalah dengan bangun pagi. Atau cara seorang murid merangkai kata dalam sebuah kalimat. Berikuti ini ceritanya yang saya kutip dari Reader’s Digest Indonesia edisi Juli 2008.
Diarsipkan di bawah: REFLEKSI
SAAT santai, istri saya bercerita tentang seorang temannya. Kebetulan dia dosen. Hingga di usia 35 tahun saat ini, dia belum menikah. Bukan karena tidak ada lelaki yang tertarik. Menurut kami lebih pada sikapnya yang perfeksionis. Kepingin mendapat suami yang betul-betul pas dengan frame yang telah dibuatnya. Terakhir, dia bercerita tidak ingin menikah dengan dosen. Alasannya, suami dosen akan berpeluang banyak berselingkuh dengan mahasiswinya. Apalagi setiap tahun, mereka datang silih berganti dengan usia yang lebih kurang sama tetapi dengan penampilan makin memikat!
Diarsipkan di bawah: MEDIA
BAGAIMANA wajah republik ini setelah sepuluh tahun merdeka? Siapa saja perusahaan asing yang menguasai ladang minyak Indonesia? Bagaimana jurnalis asing menggambarkan profil orang yang hidup di era ‘55? Artikel yang disajikan National Geographic edisi Agustus 2008, kembali membawa kita pada suasana itu.